Oleh: zainanto | Desember 22, 2009

Aku Berkisah, Karena Aku Dicinta…

 

 Bruum…brum…mesin perahu dinyalakan. Dengan sigap Pak Dumoi  meloncat-loncat walau satu kakinya. Melewati kami yang duduk di atas perahu. Ia berpegangan pada tepi perahu. Satu kaki bukan menjadi penghalang baginya untuk bergerak dari belakang perahu untuk  menyalakan mesin perahu dan  menuju bagian depan, menjadi juru mudi perahu ini.

Pelan-pelan perahu  bergerak meninggalkan paroki memecah coklatnya  air Sungai Seruyan, mengunjungi umat  di stasi…

Beberapa stasi harus dikunjungi dengan perahu. Tidak hanya kesulitan dengan jalan darat sehingga harus berjumpalitan ketika jalan lumpur bersenyawa dengan air  hujan. Jalan menjadi penyok dan beralur dalam. Ban Mega Pro masuk ke dalam alur tanah berair, kubangan, mengharuskan gigi motor masuk perseneling satu, jalan pelan-pelan, karena kalau tidak, bisa ditelikung jatuh dan mandi air lumpur.

Naik perahu inipun punya kesulitan tersendiri. Di Riam Gading, misalnya, kami harus turun untuk mendorong perahu karena tidak mungkin melewati sungai berbatu yang bukan hanya akan menumpahkan kami, tetapi juga bila nekat kapal kayu inilah yang akan sobek dan bocor. Bukan pilihan yang baik untuk bertengger di perahu, mendorong perahu memilih air di antara batu terjal adalah konsekwensinya…

Belum lagi dengan riam di dekat Pangkeh. Bayangkan, sekitar 22 meter kedalamannya sungai Sereyan ini. Masih ditambah bonus dengan pusaran-pusaran air dan riam-riam, yang kalau tidak hati-hati akan terjatuh.Masuk dalam pusaran kayak gasing dan baru dimuntahkan setelah tiga hari tiga malam. Otomatis, perut membesar dan nyawa yang sudah terlepas meninggalkan tubuh dan belum lagi menjadi santapan buaya yang mungkin sedang timbul selera makannya: melumatkan tubuh. Pemilu lalu, rombongan kampanye caleg Golkar: Pak Ibi dan kawan-kawan, harus melepaskan jiwa mereka di tempat itu. Baru 3 hari kemudian  tujuh korban ditemukan… Peristiwa yang tragis sehinga kami harus mengheningkan cipta dan mengirim doa saat lewat tempat itu.

( Sehingga, ketika saya meminta ke keuskupan dikirim pelampung sebagai salah satu safety equipments agar bila tercebur masih bisa selamat, ditertawakan karena fungsi pelampung bukan untuk menyelamatkan, tetapi hanya mempercepat mayat keluar sehingga tidak harus menunggu siang-malam selama tiga hari menunggu mayat keluar dan mengapung…Mungkin lain kali justru dikirim rosario.). Siapapun, bahkan jago renang sekalipun, kecil kemungkinan selamat dalam gasing pusaran air ini.

Beruntung kami punya Pak Dumoi, motoris paroki yang mengantar kami mengunjungi stasi-stasi di Paroki Rantau Pulut ini. Pak Dumoi begitu istimewa, karena dialah yang setiap hari mengunjungi pastoran kami yang kecil. Sebuah rumah panggung dari papan kayu dengan tiga bilik masing-masing berukuran 3X3, dengan sebuah teras mungil yang tiangnya dirambati oleh tanaman, dan dinding yang sudah berlubang-lubang dimakan usia sehingga membuat ular kobra yang salah jalan masuk ke dalam rumah dan menakuti kami. Kemunculan Pak Dumoi  setiap pagi dan sore. Pagi, karena ia menanyakan jadwal kunjungan ke stasi, yang membuatnya menunaikan tugas sucinya menjadi nakhoda. Atau sore hari, setelah listrik menyala (kami tinggal di kecamatan, dimana listrik menyala pukul 5 sore dan dipadamkan pukul 11 malam), dan kami menonton ‘Suami-Suami Takut Istri’ bila misa harian dilakukan pagi hari.  Tapi kedatangannya selalu kunantikan sewaktu para romo (ada 2 romo di paroki) rapat di keuskupan, sebab dia menjadi pasangan terbaikku yang menemani masak mie rebus dan makan berdua. Mengusir kesepian…
Pak Dumoi tinggal di seberang paroki. Persisnya begini: pastoran di pinggir sungai Seruyan, dia tinggal di seberangnya. Dari pastoran, Pak Dumoi seperti tinggal sendirian di sebuah pulau. Ya, karena di seberang itu tidak ada perkampungan lain. Yang ada hanya ladang milik orang kampung dan mungkin ada kampung namun 3-4 jam jalan kaki masuk ke dalam hutan. Demikian, kata orang kampung. Jadilah pak Dumoi menjadi Ketua RT, Ketua RW, sendirian di seberang sungai itu. Kesendirian ini yang membuatku kwatir, karena pernah dia tiga hari berturut-turut tidak muncul di paroki ternyata dia bertahan dari demam. Berjuang sendirian…

Tahun 1982 merupakan tahun yang tak pernah bisa hilang dari ingatan Pak  Dumoi. Pada tahun ini, ia harus kehilangan  kaki kirinya karena  musibah kecelakaan kerja. Waktu itu ia menjadi pembantu penebang kayu pada sebuah perusahaan kayu. Kakinya tergencet kayu, yang lepas saat diangkat buldozer. Kayu itu menggelinding, menimpa kakinya dan merampas masa depannya untuk mengais rupiah dalam pekerjaan ini. Jarak yang cukup jauh dari kamp penebang dengan perusahaan membuatnya seharian menunggu mobil jemputan untuk membawanya pergi berobat. Tiba di perusahaanpun team medis perusahaan akhirnya angkat tangan melihat kondisi kakinya. Ia dibawa ke RSU Sampit. Sama saja. Ia kemudian dilarikan ke Palangka Raya. Namun rupanya nasib mengatakan lain. Ia harus menerima kenyataan bahwa dokter hendak mengambil tindakan intervensi medis: amputasi.

Ia kembali bekerja di perusahaan tersebut dengan satu kaki. Tugasnya kemudian lebih banyak di belakang meja, menjadi juru ketik. Namun, sekali lagi nasib baik tidak berpihak padanya. Karirnya di perusahaan tersebut harus berakhir dengan pengurangan karyawan, tiga tahun setelah kecelakaan itu.

Ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Rantau Pulut serta berencana untuk berladang. Akan tetapi, keadaan tubuhnya tidak mengijinkan dia untuk menghidupi keluarganya  dari pekerjaan ini.

Keadaan ekonomi keluarga, selanjutnya menjadi penyebab badai kehidupan rumah tangganya/. Rumah tangganya gagal. Istrinya kemudian meninggalkan rumah membawa si bungsu dari dua anak mereka.

Kegelapan menyelimuti kehidupan Pak Dumoi. Putus asa dan keinginan untuk mengakhiri hidup, selalu membayangi hari-harinya. Bunuh diri, memang tindakan konyol…Tapi, hanya pikiran itu yang merasuki dirinya.

Tapi rencana itu tak pernah terlaksana. Keinginan itu pupus manakala  ia  melihat Ika Dayanti, anak sulung buah  perkawinan mereka yang tinggal bersamanya.

 

Tidak selamanya kehidupan itu mesti diratapi.

Pak Dumoi  kemudian mengenal agama Katolik dan dibabtis oleh Pastor Prawiro Suyono, MSF. Ketika ia mulai aktif di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Rantau Pulut, hati Pak Dumoi  tergerak saat  melihat bahwa pastor tersebut memerlukan pengemudi perahu paroki untuk mengunjungi  umat di stasi. Ia tidak tega karena pastor harus mengemudi sendiri dengan perahu (atau lebih mirip sampan dengan mesin ½ pk dibelakang dan karena hanya dapat dinaiki 2-3 orang ). Akhirnya ketika Pastor Prawiro menawarkan  hal tersebut, Pak Dumoi dengan gembira hati menyambut tawaran tersebut. Gaji pertama sebesar Rp 50.000 sebulan  ia terima dengan senang hati. Ia bangga terlibat dan ambil bagian dalam pelayanan umat di Paroki Rantau Pulut.

Ia bersyukur, walaupun hanya memiliki satu kaki, namun ia mempunyai sesuatu yang membuatnya menjadi berharga dan berguna. Hal inilah yang membuatnya  mampu membangun kehidupan yang baru.

 Rasa percaya diri dan harga diri mulai terbangun kembali. Ia mampu memaknai hidup dengan lebih baik yaitu dengan memberikan kemampuan yang dia miliki untuk turut serta bekerja di ladang Tuhan.

Baginya, hidup memang kadang terasa sangat tidak adil, penuh percobaan dan hambatan. Namun, bukan dinamakan kehidupan kalau hanya untuk diratapi.

Kehidupan harus terus  dimaknai.

Di balik itu semua, ada sesuatu mungkin indah: pada  waktu yang lain dan kesempatan yang berbeda.

Hidup merupakan potongan-potongan peristiwa.

Bisa saja ada peristiwa yang sangat kelam yang begitu gelap. Hitam legam.

Ada  peristiwa biasa dan terlewati begitu saja. Hilang lenyap tanpa tergurat  termemori.

Bisa saja berwarna putih atau abu-abu.

Namun, tentu ada potongan peristiwa lain, yang juga bisa membuat hidup itu berwarna.

 Colorfull.

 Begitu berharga dan begitu indah…

Semua peristiwa itu pernah dijalani oleh Pak Dumoi…

Sekarang, indahnya  kehidupan itulah yang dialami oleh Pak Dumoi.

Bukan dengan bergelimangnya harta…

Bukan dengan tanda pangkat di lengan, dengan jabatannya sebagai seorang nakhoda perahu paroki…

Namun, ia bangga dan bahagia telah ikut serta terlibat dalam melayani umat di Paroki Rantau Pulut meski dengan keterbatasannya.

 

 

Tidak utuh bagian dari diri kita bukan berarti harus menyerah dan berhenti melayani Tuhan…

Bukan.

Kelemahan bukan diciptakan sebagai rintangan melayaniNya.

 Ia menghendaki setiap orang melayaninya dengan cara masing-masing ,dengan talenta masing-masing, dan bidang masing-masing.

Apapun, segala sesuatu, kemampuan diri bisa dipersembahkan untukNya, si Pemberi Hidup, sebagai sebuah Persembahan Hidup…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: