<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jalinan Cinta Manusia</title>
	<atom:link href="http://jalinancinta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalinancinta.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 01:33:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jalinancinta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jalinan Cinta Manusia</title>
		<link>http://jalinancinta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jalinancinta.wordpress.com/osd.xml" title="Jalinan Cinta Manusia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jalinancinta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Remah-remah kehidupan : BELAJAR HIDUP</title>
		<link>http://jalinancinta.wordpress.com/2009/12/24/remah-remah-kehidupan-belajar-hidup/</link>
		<comments>http://jalinancinta.wordpress.com/2009/12/24/remah-remah-kehidupan-belajar-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 01:33:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zainanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalinancinta.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[ “ Kalau dengan uang segini ya sulit untuk hidup, Mas Anto”, demikian kata yang sering kudengar dari Pak Untung dan Mateus, dua teman kerja di pabrik makanan ayam ini. Pak Untung sudah berkeluarga dengan dua anak. Mateus yang masih sangat muda, baru saja melamar seorang gadis sehingga membuatnya giat untuk mengumpulkan uang untuk pernikahannya. “Hidup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalinancinta.wordpress.com&amp;blog=10815364&amp;post=72&amp;subd=jalinancinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jalinancinta.files.wordpress.com/2009/12/1600_1200.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-73" title="1600_1200" src="http://jalinancinta.files.wordpress.com/2009/12/1600_1200.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> “ Kalau dengan uang segini ya sulit untuk hidup, Mas Anto”, demikian kata yang sering kudengar dari Pak Untung dan Mateus, dua teman kerja di pabrik makanan ayam ini. Pak Untung sudah berkeluarga dengan dua anak. Mateus yang masih sangat muda, baru saja melamar seorang gadis sehingga membuatnya giat untuk mengumpulkan uang untuk pernikahannya. “Hidup itu tidak mudah”. Demikian sinonim yang juga sering kudengar dari mereka. Dua kata itu seperti refren yang terus terngiang di telingaku. Aku mengenang bahwa kehadiranku itu karena “ hanya sejauh “perutusan komunitas untuk tinggal dan mengalami bekerja, menjadi buruh. Tapi itu bukan nyata. Aku bisa masuk dalam situasi kemiskinan mereka, tapi aku bisa pulang dan mengalami kemapanan. Tinggal di sebuah rumah dengan bapak kost seorang pengusaha dan ibu seorang guru negeri, membuatku merasakan “jauh” dari rasa kekurangan seperti dua teman kerjaku itu. Begitu juga dengan kemapananku di novisiat, barang-barang yang dipakai tinggal memasukkan dalam daftar belanja bulanan dan sejurus kemudian barang itu ada di lemari komunitas. Dengan kenikmatan dan kemapanan di rumah itu membuat gaji yang kuterima lebih dari cukup untuk biaya hidup di Purwokerto. Bahkan hari Sabtu setelah gajian, aku bisa mengajak Matius makan mie ayam. Semuanya serba kecukupan. “ Kalau tidak cukup seperti ini, ya terpaksa harus ngobyek di tempat lain “, demikian kata Pak Untung kepadaku dan Mateus. Inspirasi dari Pak Untung membuat Mateus kemudian nyambi jadi tukang ojek sore setelah kerja. Lantas apa yang bisa kulakukan ? Pikiran itu masih terus ada hingga sampai pada suatu siang. Saat itu semua kuli bongkar muat sedang beristirahat di warung. Biasanya, aku juga pulang makan siang di tempatku menumpang. Tapi siang itu entah kenapa aku belum berniat pulang. Tak berapa lama, datang truk pengangkut jagung, bahan produksi pabrik. Tidak ada kuli bongkar muat. Akhirnya, pimpinan menyuruhku membongkar muatan truk itu. Satu truk penuh dengan karung-karung jagung. “ Pak Untung, tiba kesempatan untuk ngobyek”, demikian pikirku. Aku tahu bahwa temanku sering mendapat tips dari supplier kalau bongkar truk. Apalagi kalau aku mampu bongkar sendiri, tentu hasilnya besar”, demikian pikirku-pongah. Satu persatu karung kuangkut. Bukan hanya karung-karung jagung yang kupindah, badankupun mulai mengeluarkan keringat sebesar jagung-jagung itu. Akan tetapi bayangan dapat “uang obyekkan” menepis segala penat badan. Akhirnya dengan motivasi yang begitu tinggi, pekerjaan selesai. Sendiri. Kemudian betul dugaanku, sopir mengulurkan sejumlah uang kepadaku. Kumasukkan ke dalam saku. Lumayan dapat obyekkan, demikian pikirku. Sore hari, selesai kerja, kutengok uang itu dan kulihat Rp 5.000. Itulah upahku. Ternyata tidak semulus rencanaku menikmati hasil obyekkan. Setelah makan malam, aku sadar bahwa ada sesuatu yang tidak enak dalam pungungku. Mulai rasa panas, kemudian rasa ngilu luar biasa mulai menyerang. Pegal, panas, menggigit-gigit, semuanya tercampur menjadi sebuah formula yang menghasilkan satu kata: sakit ! Ya ampun, ternyata aku salah urat. Semalam-malaman itu kemudian aku belingsatan. Tidur terlentang sakit, miring apalagi. Tidak bisa tidak, eranganku smapai ke kamar sebelah. Akhirnya malam itu seluruh anggota keluarga kalang-kabut menghadapi satu hal: frater salah urat. Bapak merebus air, mengompres punggungku. Ibu yang sebenarnya tidak kuat memijit badanku yang besar, turut ambil bagian: memijit-mijit punggungku. Kesibukan malam itu juga berlangsung pagi harinya. Ibu akhirnya mendatangkan dukun pijat kepadaku. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ketika yang satu gagal, akhirnya didatangkan pula dukun pijat cadangan. Dua kali dukun pijat harus kubayar dan itupun masih ditambah pengeluaran ekstra: beli Counterpain. Dalam sakitku yang berangsur-angsur membaik, aku ingat dengan Mateus dan Pak Untung. Aku sungguh-sungguh bisa belajar hidup dari mereka. Mereka berjuang menghidupi keluarga, tentu dengan berbagai cara dan konsekwens iyang tidak mudah. Dan kemudian kusadari, itulah hidup: Sebuah hidup yang tidak mudah-persis yang mereka katakan.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalinancinta.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalinancinta.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalinancinta.wordpress.com&amp;blog=10815364&amp;post=72&amp;subd=jalinancinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalinancinta.wordpress.com/2009/12/24/remah-remah-kehidupan-belajar-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6119754660c33d283b47c8c7bc647642?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zainanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalinancinta.files.wordpress.com/2009/12/1600_1200.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1600_1200</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
